Kategori: Berita

Kiai Pradah Jadi Ikon Sejarah Kabupaten Blitar

Kiai Pradah Jadi Ikon Sejarah Kabupaten Blitar. Terik matahari yang menyengat tidak menyurutkan niat para pengunjung untuk mendapatkan berkah dari tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun ini.

Salah seorang pengunjung mengaku setiap tahun mendatangi prosesi jamasan pusaka kiai pradah ini agar mendapat berkah dan bisa awet muda.

Prosesi siraman diawali dengan dikeluarkannya pusaka kiai pradah dari gedong penyimpanan. Selanjutnya pusaka dibawa mengelilingi alun – alun menuju panggung pencucian.

Bupati blitar herry nugroho mengawali ritual jamasan ini dengan menyiramkan air bunga setaman kemudian diikuti para sesepuh wilayah setempat.

Setelah selesai dicuci bupati memukul pusaka yang berbentuk gong sebanyak tiga kali sebagai tanda pusaka telah dimandikan dan siap disimpan lagi di tempat persemayaman.

Rangkaianacara ini diakhiri dengan kenduri bersama. Seperti halnya sisa air yang digunakan untuk mencuci pusaka para pengunjung juga saling berebut mendapatkan tumpeng.

Bupati blitar herry nugroho mengatakan tradisi siraman pusaka kiai pradah yang diadakan setiap tahun sekali ini diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki dan kecintaan masyarakat terhadap budaya tradisional.

Cerita yang berkembang di masyarakat blitar pusaka kiai pradah adalah senjata pamungkas milik pangeran prabu adik raja kartosuro susuhunan paku bowono pertama yang memerintah pada abad 17.

Pangeran prabu sampai di blitar karena diutus membabat kawasan hutan lodoyo yang masih angker dan dihuni banyak binatang buas.

Sampai di hutan rombongan pangeran prabu tercerai berai untuk menyatukan kembali pangeran prabu memukul gong sebanyak tujuh kali dan anehnya selain para rombongan kumpul kembali juga datang harimau namun tidak menyerang mereka.

Perintah membabat kawasan hutan lodoyo sebenarnya tipu muslihat pakubuwono pertama. Tujuannya agar pangeran prabu dimangsa binatang buas. Selain melalui tipu muslihat rombongan pangeran prabu juga dikejar pasukan kerajaan kartasura.

Karena terdesak pangeran prabu menitipkan pusaka yang dibawa dari kraton kartosuro kepada seorang janda bernama nyi partosuro sambil berpesan agar setiap tanggal 1 syawal dan 12 maulud dimandikan dengan air bunga setaman.

Pesan tersebut hingga kini pesan tersebut tetap dijaga. Bahkan pemerintah kabupaten blitar mulai mengemasnya sebagai paket wisata budaya.